selamat ya,, moga jadi keluarga SAMARA.
ya ampuunn cantik bangeeett kamu eniwei,, selamat yaa..
selamat yaa,, akhirnyaa,, semoga cepet dapet momongan..
ketika kamu menikah, apalagi kamu perempuan, kamu akan sangat banyak mendapatkan ucapan - ucapan tersebut diatas...
saya yang sering nyelamatin aja sampai bosan, sekali kali pengen menginovasi kata - kata ucapan untuk menyelamati teman yang menikah...
oohh iya, satu lagi.. kalo baru bikin pengumuman nikah di socmed setelah menikah maka akan banyak komen ataupun mention yang bilang..
lhah, udah nikah aja,, kapan nikahnya? kok gabilang-bilang?
dimana saya paling males kalo dijawab, memang sederhana aja,, dan lagi kalau teman yang pada jauh, ga enak kalo mau ngundang..
darimana dilihatnya sederhana kalo pas nikah keliatan cantik karena dirias, dan tamu yang dateng pada disuguh makan.. preett banget deh kalo ngakunya sederhana..
satu lagi deh preambule nya sebelum masuk ke bab dua,, alias isi..
ada yang lucu lagi ketika saya mengkomen foto after weddingnya temen,,
loh kamu dah nikah? kapan? eniwei, selamat ya,,
dan dijawab,, Yaolooohhhh nduuuttt,,, aku lupaaaaaaaa,,,,,,,,,
udah, gitu doang,, bbm kek, sms kek, ngewasap kek, ngeline kek, mensyen kek, nge DM kek, atau paling ga nginbox fb bilang dan akuin kalo cewek yang gendut - gendut gini, jaman sma pernah nenangin kamu pas kamu lagi di bully cowok - cowok saiko (oke maaf, keterlaluan kalo ini :-D ) ini telah terlupakan dalam daftar maha panjang penerima undangan maha eksklusif dari kamu..
senyum aja deh.. hahahahaha,, loh malah ngakak..
oke,
mari kita masuk ke inti permasalahan..
sesuai judulnya..
diantara bekerja atau ibu rumah tangga berpenghasilan..
kita sebagai manusia memiliki waktu sekitar 24 jam untuk menjalani hari,,
dan karena saya ditakdirkan sebagai wanita,, naluri kewanitaan tentang hal - hal yang mendetail kadang mengusik hati..
katanya ketika wanita bekerja, maka dalam keluarga akan banyak hambatan yang dihadapi, terutama yang disorot adalah mendidik penerus bangsa.. memang inti terbesar dalam komitmen membentuk keluarga adalah ini...
karena saya belum menikah dan hanya bisa membayangkan kehidupan pasca pernikahan.. saya suka bertanya pada diri saya sendiri,, apakah saya ikhlas ketika anak saya tinggal sama pembantu selama setengah hari.. lalu bener ga ya si embak masakin makanan buat anakku jangan - jangan cuman main vetsin aja nih si mbak.. bener ga ya si mbak ngawasin anakku kalo lagi main jangan - jangan cuma ditinggal sms an.. beneran tidur siang ga ya anakku jangan - jangan cuma boongan bilang iya.. trus kek mana aku bisa jadi sahabat anakku kalo pas saya pulang anakku juga udah capek dan ngantuk,, trus saya ga punya sahabat dong kalo dirumah,, anak jarang ngobrol,,
saya jealous kalo anak saya lebih deket sama si embak.. sudah capek - capek ngeluarinnya,, ehh cuman jadi sahabat orang lain..
boleh kali ya jadi ibu rumah tangga kalo jadi cewek kebanyak mikir kayak ilustrasi diatas.
tapikan ibu rumah tangga identik sama hore - hore pas suami dan anak-anak belum pulang..
tapi sebenrnya kalo niat beneran jadi ibu rumah tangga.. tetep kudu jadi ibu rumah tangga yang pinter..
kalo ga pinter kalo tau tau diboongin orang,, gampang ilang dong harta suami..
trus kalo ga pinter gimana mau ndidik anak jadi gernerasi berprestasi penerus bangsa..
trus kalo ga pinter gimana mau bantu pendapatan rumah tangga dari suami.
ada jalan perenungan panjang,, dan selama ini saya masih belum menentukan dengan mantap..
hanya selalu berusaha menminta ridho Alloh untuk mendampingi diri ini selama melakukan pemantasan,,
agar pada saat menikah,, tak ada lagi keraguan..
aku akan mantap menitipkan hati ini untukmu..
dan aku akan mantap menjalani predikatku sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai macam cara untuk membantumu meringankan menafkahi anak anak kita..
bahkan ketika memang bekerja merupakan jalannya, aku akan tetap menempelkan predikat itu dalam drirku sehingga anakku bukan sahabat orang lain,, bagaimanapun caranya,,
Tampilkan postingan dengan label fantasi dian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fantasi dian. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Mei 2013
Selasa, 14 Mei 2013
ada sebuah nikmat baru. nikmat ini disebut intelegensi dan istiqomah.
pertama - tama jelas aku akan mensyukuri semua ini. hanya Alloh SWT yang bisa memberikan ini kepadaku.
dan aku yakin pada saatnya nanti anugerah dan piala itu akan jatuh ke tanganku.
akupun sampai bingung, ini namanya muhasabah atau... ataukah menjauhi mendustakan nikmat.
apapun itu, syukurku tak akan pernah putus pada Sang Pemilik segala nikmat..
pernah seorang dosen di kelas memberikan motivasi untuk berprestasi dan cepat lulus dengan mengilustrasikan kembali cerita dalam novel yang sangat terkenal "laskar pelangi" bagaimana seorang yang sangat banyak menghadapi hambatan untuk mendapatkan pendidikan berhasil mendapatkan mimpinya untuk kuliah di Sorborne.
ironi memang ketika dibandingkan dengan kita,, atau okelah diperkecil penunjukan subyeknya ke "saya",, yang ibarat kata tidak memiliki penghambat seberat si ikal dalam novel laskar pelangi, masih saja memiliki segudang alasan untuk bermalas - malasan sewaktu kuliah dan mengerjakan skripsi.
tetapi kali ini, dan pada saat sekarang,, saya merasa sedang diceramahi oleh Sang Pemilik segala nikmat tentang betapa kayanya ilmu yang saya miliki..
ada suatu cerita tentang anak manusia yang senyatanya memiliki orang tua yang sangat sangat mampu menyekolahkan dirinya bahkan sampai jenjang yang tak terhingga. tetapi, sungguh ironi yang terjadi,, saking sangat precious nya label sebagai "abdi negara" orangtuanya memilih menginvestasikan dana terhadap anaknya untuk mendapatkan cap sebagai abdi negara daripada untuk pendidikan anaknya.
sebentar,, saya ingin mencernanya lagi.. ahh tetapi tetap saja tak masuk akal logika ku..
bahkan ketika kedua orang tua dan saudara saya telah sah dan bahkan telah bertahun - tahun menjadi abdi negara tidak ada pernah terfikirkan untuk mencari cara instan untuk menjadi abdi negara dengan menginvestasikan dana yang begitu besarnya.
dan seperti diingatkan,, telah banyak dana yang dikeluarkan tidak sedikitpun ada hasil cap abdi negara yang didapat oleh anak ini..
kisah ini seakan seperti menarik kata - kata syukur dari dalam mulut saya untuk termuntahkan sebanyak - banyaknya... bahwa salah satu anugerah terindah dari hidup saya adalah lingkungan yang sangat mendukung untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.. intelegensia,, insyaAlloh bukan idealisme yang saklek yang saya miliki saat ini.
karena saya berfikir,, contoh diatas adalah idealisme abdi negara yang sangat saklek yang dipuja di keluarga tersebut,, sangat ironi..
menikmati istiqomah atau sedang mendapatkan nikmat istiqomah yaa??
entahlah,, sampai saat ini,, semuanya masih menjadi misteri..
mengapa anak manusia satu ini melepaskan hijabnya dan memilih menjadi wanita super gaul..
tak tanggung - tanggung,, hijabnya yang tergolong "dalam" bisa terhapus oleh lingkungan yang berada disekitarnya..
lagi - lagi lingkungan yang membuat saya sampai saat ini tak habis pikir dan masih menganggap hal tersebut diatas perlu untuk memerintahkan syaraf motorik mulut melafalkan kata WOW..
meskipun saya tidak berhijab yang "dalam" tapi saya masih memiliki si "istiqomah" ini dan semoga Alloh SWT tetap menjadikan dia sebagai jodohku.. apa jadinya jika aku kehilangan si "istiqomah" ini??
diucap lagi yuk kata - kata satu ini "alhamdulillah hirobbil 'alamin"
Sabtu, 06 Oktober 2012
BAHAGIA itu sederhana
lama yah saya ga blogging..
semoga dengan kesibukan saya yang baru saya bakal tambah rajin blogging,, *yak semoga ahahahak
berawal dari nonton ending dari sebuah acara talkshow,, si host yang nyentrik dengan kepala botaknya dan eyeliner tebel menceritakan definisi bahagia dari setiap bintang tamu talkshow nya..
sebagian besar bintang tamu itu selalu menjawab bahagia dengan keadaan yang sekarang,, dimana keadaan sekarang merupakan keadaan jauh yang berbeda dari sebelumnya dan terkadang keadaan sekarang merupakan suatu keadaan yang tidak bisa dipilihnya. hanya ada satu pilihan menjadi keadaan ini atau tidak ada sama sekali.
lalu host menceritakan tentang riset yang pernah dilakukan beberapa psikolog (tapi maaf saya agak lupa dimana riset ini dilakukan dan siapa yang melakukan) bahwa ketika seseorang diberi enam buah barang dan disuruh untuk mengurutkan dari nomor satu sampai nomor enam mana barang yang paling dia suka, lalu barang pada urutan ke tiga dan kelima disuruh untuk dibawa pulang. tidak sampai setengah jam, seseorang ini disuruh kembali ke ruangan yang berisi enam barang tersebut lalu disuruh untuk mengurutkan ulang mana barang yang paling dia suka. dan yang kebanyakan terjadi adalah mengurutkan barang ketiga menjadi urutan pertama dan barang kelima menjadi urutan terakhir.
dan hebatnya, penelitian ini dilakukan pada orang yang amnesia.
WOW (tapi saya ga sambil koprol yaa)..
sesaat saya terhenyak.. bahwa sesungguhnya manusia akan cenderung membentuk sistem di otaknya untuk mengatakan bahwa keadaan yang dimilikinya sekarang ini adalah keadaan yang membahagiakan.
masih kata mas host nya lagi, ini lebih baik daripada seseorang yang ambisius dan mengorbankan apa yang seharusnya tidak pantas untuk dikorbankan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
saya seperti diingatkan tentang apa itu bersyukur,,
saya merasa,, seperti disayangi oleh Sang Khalik,,
saya merasa,, bahwa dengan keadaan saya sekarang ini saya tak harus banyak melakukan kebohongan.
saya merasa,, bahwa lingkungan baru saya, teman-teman baru saya, merupakan hadiah ulangtahun saya yang terindah yang diberikan oleh Sang Khalik,,
saya merasa,, ini adalah kado terindah yang papa mama saya berikan di tahun ini..
ya, saya bahagia.. saya bersyukur.. dan saya berterimakasih dengan cara saya akan selalu membuat waktu yang saya lewati dengan kegiatan yang luarbiasa sebagai diri saya..
semoga dengan kesibukan saya yang baru saya bakal tambah rajin blogging,, *yak semoga ahahahak
berawal dari nonton ending dari sebuah acara talkshow,, si host yang nyentrik dengan kepala botaknya dan eyeliner tebel menceritakan definisi bahagia dari setiap bintang tamu talkshow nya..
sebagian besar bintang tamu itu selalu menjawab bahagia dengan keadaan yang sekarang,, dimana keadaan sekarang merupakan keadaan jauh yang berbeda dari sebelumnya dan terkadang keadaan sekarang merupakan suatu keadaan yang tidak bisa dipilihnya. hanya ada satu pilihan menjadi keadaan ini atau tidak ada sama sekali.
lalu host menceritakan tentang riset yang pernah dilakukan beberapa psikolog (tapi maaf saya agak lupa dimana riset ini dilakukan dan siapa yang melakukan) bahwa ketika seseorang diberi enam buah barang dan disuruh untuk mengurutkan dari nomor satu sampai nomor enam mana barang yang paling dia suka, lalu barang pada urutan ke tiga dan kelima disuruh untuk dibawa pulang. tidak sampai setengah jam, seseorang ini disuruh kembali ke ruangan yang berisi enam barang tersebut lalu disuruh untuk mengurutkan ulang mana barang yang paling dia suka. dan yang kebanyakan terjadi adalah mengurutkan barang ketiga menjadi urutan pertama dan barang kelima menjadi urutan terakhir.
dan hebatnya, penelitian ini dilakukan pada orang yang amnesia.
WOW (tapi saya ga sambil koprol yaa)..
sesaat saya terhenyak.. bahwa sesungguhnya manusia akan cenderung membentuk sistem di otaknya untuk mengatakan bahwa keadaan yang dimilikinya sekarang ini adalah keadaan yang membahagiakan.
masih kata mas host nya lagi, ini lebih baik daripada seseorang yang ambisius dan mengorbankan apa yang seharusnya tidak pantas untuk dikorbankan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
saya seperti diingatkan tentang apa itu bersyukur,,
saya merasa,, seperti disayangi oleh Sang Khalik,,
saya merasa,, bahwa dengan keadaan saya sekarang ini saya tak harus banyak melakukan kebohongan.
saya merasa,, bahwa lingkungan baru saya, teman-teman baru saya, merupakan hadiah ulangtahun saya yang terindah yang diberikan oleh Sang Khalik,,
saya merasa,, ini adalah kado terindah yang papa mama saya berikan di tahun ini..
ya, saya bahagia.. saya bersyukur.. dan saya berterimakasih dengan cara saya akan selalu membuat waktu yang saya lewati dengan kegiatan yang luarbiasa sebagai diri saya..
Minggu, 25 Maret 2012
it's handmade and it's usefull
awalnya cuma pengen punya kesibukan dirumah sambil nunggu pengumuman lamaran pekerjaan, tetapi kok malah di semangatin teman teman untuk dikembangin.
buat awalannya,, saya nyontek berbagai tutorial dari http://duniarumah.wordpress.com/
dan jadilah beberapa kreasi nya..
dilihat boleh, dipilih juga boleh,,
diorder apalagi. :D
buat awalannya,, saya nyontek berbagai tutorial dari http://duniarumah.wordpress.com/
dan jadilah beberapa kreasi nya..
dilihat boleh, dipilih juga boleh,,
diorder apalagi. :D
Rabu, 04 Januari 2012
bersyukur, berdoa, dan berusaha
berada di lingkungan yang ber"level" menengah ke atas sejak menghirup udara untuk pertama kalinya di bumi sampai meniup lilin berbentuk angka 22 membuat otak nakal saya menerawang jauh ke lingkungan berlevel lain.
sebagai geograf yang expert ilmu pengelompokan, saya membagi tipe level lingkungan menjadi empat kelompok.
1. level bawah
2. level menengah kebawah
3. level menengah keatas
4. level hedonis
okey, pertama, level bawah.
saya tidak terlalu susah ternyata untuk bisa berandai-andai atau berpola pikir seperti orang-orang pada level ini.
saat itu saya sedang menjalani praktek uji sim A. karena dalam kelompok ujian ini saya satu-satu nya wanita yang ada, oleh pak polisi penguji yang notabene juga bukan wanita, meskipun saya peserta yang datang di urutan antrean nomor 3 tetapi saya dipanggil untuk urutan kedua praktek uji mengemudi. sehingga saya mempunyai banyak waktu untuk menunggu hasil ujian yang jelas sudah dapat sitebak kegagalannya. panas, karena saat itu ujian dilakukan pada tepat pukul 12.00 di tengah lapangan. otomatis pohon rindang di tepi selokan menjadi tempat favorit semua peserta untuk menunggu. dan karena saya satu-satunya perempuan, saya merasa kurang nyaman membaur dengan para bapak-bapak yang lain.
jadilah saya duduk agak jauh dari mereka. tak berapa lama, seorang bapak entah darimana asalnya duduk disebelah saya. dia mulai menceritakan pengamatannya terhadap semua peserta yang melakukan ujian saat itu, termasuk saya. ajaib, bahkan saya tidak tahu kapan bapak ini datang dan memperhatikan saya. bodohnya saya, saya menenyakan apa pekerjaannya, dan seperti disambar petir, dia seorang peminta-minta. dia bercerita setiap harinya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa tahu apa nama daerahnya. tak punya tempat tinggal. tak ada perencanaan, apa yang didapat hari ini hanya untuk hidup hari ini. tak ada keluarga, aspal, kaus, celana
pendek dan topi itulah keluarganya. pengeluarannya tak banyak, hanya 4000 rupiah per hari, karena itu yang di dapat dan itu sudah bisa membuatnya mengucap syukur meakipun hanya dengan sendawa. hanya keluarganya, makan, dan berpindah yang ia tahu, karena itulah sandang, pangan, dan papan.nya.
kedua, menengah kebawah.
mungkin untuk dua level yang berdekatan dengan lingkungan level saya, sangat mudah menemukannya karena tidak ada jarak yang berarti. okey, karena tidak terlalu sulit bertemu orang pada level ini maka tidak terlalu rumit juga berandai-andainya. standar, satu kata yang saya rasa cocok untuk level ini. dibandingkan dengan level sebelumnya, orang pada level ini lebih bisa berencana. tipe pemenuhan kebutuhan yang sesuai yang mereka tahu dan sepanjang
bisa mereka jangkau. miris ketika kejadian ini lewat tanpa permisi ke otak saya. pada suatu hari, penat, bosan, dan lapar sedang bersekongkol untuk berduel dengan fisik saya. pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari kampus merupakan sistem pertahanan yang sebenarnya sudah dapat dikenali oleh ketiga musuh diatas. saya memutuskan untuk membunuh suara keroncongan dari perut saya dengan menuju ke salah satu restoran fastfood yang sangat dicintai oleh para mahasiswa perantau saat jam 15.00-17.00. karena ramai, saya harus dapat meja bersebelahan dengan meja yang berpenghuni penuh. ada dua meja dan empat kursi, hanya ada sepiring nasi ayam dan minuman untuk anak perempuan berambut keriting dan pipi yang lembab. perempuan diseberangnya yang jauh lebih tua dengan dandanan santai dan disebelah anak kecil itu seorang lelaki dengan baju yang sama santainya.
satu, dua, sampai sepuluh detik keadaaan di meja itu sangat hening,
tetapi anak lucu itu tetap makan dengan lahapnya. lalu ibunya mulai
mengeluarkan suara berisik di telinga saya.
omelannya, bahwa makan di tempat ini sangat mahal dan sangat tidak terjangkau. belum lagi untuk ukuran anaknya yang tidak berprastasi di sekolah. tempat itu bukan tempat murah, untuk pergi dan menikmati waktu di tempat itu harus dengan perjuangan yang berarti, dan defisit
besar jika harus menuruti air mata anaknya yang merengek minta
merasakan makanan di tempat ini. seakan merasakan makanan terenak yang pernah di dapatnya, anak ini sampai tak menggubris apa yang diocehkan ibunya. dan saya sampai tak selera untuk menghabiskan setangkup roti lonjong penuh isi. dengan segera memanggil cleaning service yang kebetulan lewat disebelah saya dan berkata "mas, saya minta tolong, ini dibungkus yah, makasih"
saya masih ingat ketika mama saya menjanjikan makanan serupa apabila saya bisa memperbaiki nilai matematika yang sedang merah saat itu. padahal pada saat itu untuk bisa menuju ke tempat itu sangat membutuhkan perjuangan untuk menembus terik matahari dan beratnya setang motor mengendarai motor dengan bobot anak perempuannya. tetapi saya ingat betul, mama tidak pernah mengungkit-ungkit masalah harga tinggi untuk mendapatkannya. meskipun, hanya ALLOH yang tahu apakah sebenarnya mama merasakan defisit besar atau tidak saat itu.
saya tidak akan menceritakan lingkungan yang saya miliki.
karena saking bosannya. alasan inilah yang mendasari keinginan kuat
untuk menulis tentang pelevelan ini.
level hedonis. mereka memiliki segala sesuatu yang bisa debeli dengan uang. tetapi itulah harga yang harus dibayar karena mereka berfikir keras untuk selalu menjaga kelestarian dan keberlangsungan harta mereka.
belajar memahami, mengerti, dan mencoba memposisikan diri seperti
orang lain merupakan salah satu cara ampuh mensyukuri hidup ini. bukankah menjadi orang yang selalu seperti ini juga sekaligus belajar
untuk mengikis keegoisan diri yang ingin selalu diapresiasi, dimengerti, dan dipahami sementara tak mau tahu atau masa bodoh dengan yang lain.
dengan melihat kebawah kita bisa bersyukur dan dengan melihat keatas kita bisa mendapatkan pemacu hidup untuk terus berusaha dan berdoa.
sebagai geograf yang expert ilmu pengelompokan, saya membagi tipe level lingkungan menjadi empat kelompok.
1. level bawah
2. level menengah kebawah
3. level menengah keatas
4. level hedonis
okey, pertama, level bawah.
saya tidak terlalu susah ternyata untuk bisa berandai-andai atau berpola pikir seperti orang-orang pada level ini.
saat itu saya sedang menjalani praktek uji sim A. karena dalam kelompok ujian ini saya satu-satu nya wanita yang ada, oleh pak polisi penguji yang notabene juga bukan wanita, meskipun saya peserta yang datang di urutan antrean nomor 3 tetapi saya dipanggil untuk urutan kedua praktek uji mengemudi. sehingga saya mempunyai banyak waktu untuk menunggu hasil ujian yang jelas sudah dapat sitebak kegagalannya. panas, karena saat itu ujian dilakukan pada tepat pukul 12.00 di tengah lapangan. otomatis pohon rindang di tepi selokan menjadi tempat favorit semua peserta untuk menunggu. dan karena saya satu-satunya perempuan, saya merasa kurang nyaman membaur dengan para bapak-bapak yang lain.
jadilah saya duduk agak jauh dari mereka. tak berapa lama, seorang bapak entah darimana asalnya duduk disebelah saya. dia mulai menceritakan pengamatannya terhadap semua peserta yang melakukan ujian saat itu, termasuk saya. ajaib, bahkan saya tidak tahu kapan bapak ini datang dan memperhatikan saya. bodohnya saya, saya menenyakan apa pekerjaannya, dan seperti disambar petir, dia seorang peminta-minta. dia bercerita setiap harinya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa tahu apa nama daerahnya. tak punya tempat tinggal. tak ada perencanaan, apa yang didapat hari ini hanya untuk hidup hari ini. tak ada keluarga, aspal, kaus, celana
pendek dan topi itulah keluarganya. pengeluarannya tak banyak, hanya 4000 rupiah per hari, karena itu yang di dapat dan itu sudah bisa membuatnya mengucap syukur meakipun hanya dengan sendawa. hanya keluarganya, makan, dan berpindah yang ia tahu, karena itulah sandang, pangan, dan papan.nya.
kedua, menengah kebawah.
mungkin untuk dua level yang berdekatan dengan lingkungan level saya, sangat mudah menemukannya karena tidak ada jarak yang berarti. okey, karena tidak terlalu sulit bertemu orang pada level ini maka tidak terlalu rumit juga berandai-andainya. standar, satu kata yang saya rasa cocok untuk level ini. dibandingkan dengan level sebelumnya, orang pada level ini lebih bisa berencana. tipe pemenuhan kebutuhan yang sesuai yang mereka tahu dan sepanjang
bisa mereka jangkau. miris ketika kejadian ini lewat tanpa permisi ke otak saya. pada suatu hari, penat, bosan, dan lapar sedang bersekongkol untuk berduel dengan fisik saya. pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari kampus merupakan sistem pertahanan yang sebenarnya sudah dapat dikenali oleh ketiga musuh diatas. saya memutuskan untuk membunuh suara keroncongan dari perut saya dengan menuju ke salah satu restoran fastfood yang sangat dicintai oleh para mahasiswa perantau saat jam 15.00-17.00. karena ramai, saya harus dapat meja bersebelahan dengan meja yang berpenghuni penuh. ada dua meja dan empat kursi, hanya ada sepiring nasi ayam dan minuman untuk anak perempuan berambut keriting dan pipi yang lembab. perempuan diseberangnya yang jauh lebih tua dengan dandanan santai dan disebelah anak kecil itu seorang lelaki dengan baju yang sama santainya.
satu, dua, sampai sepuluh detik keadaaan di meja itu sangat hening,
tetapi anak lucu itu tetap makan dengan lahapnya. lalu ibunya mulai
mengeluarkan suara berisik di telinga saya.
omelannya, bahwa makan di tempat ini sangat mahal dan sangat tidak terjangkau. belum lagi untuk ukuran anaknya yang tidak berprastasi di sekolah. tempat itu bukan tempat murah, untuk pergi dan menikmati waktu di tempat itu harus dengan perjuangan yang berarti, dan defisit
besar jika harus menuruti air mata anaknya yang merengek minta
merasakan makanan di tempat ini. seakan merasakan makanan terenak yang pernah di dapatnya, anak ini sampai tak menggubris apa yang diocehkan ibunya. dan saya sampai tak selera untuk menghabiskan setangkup roti lonjong penuh isi. dengan segera memanggil cleaning service yang kebetulan lewat disebelah saya dan berkata "mas, saya minta tolong, ini dibungkus yah, makasih"
saya masih ingat ketika mama saya menjanjikan makanan serupa apabila saya bisa memperbaiki nilai matematika yang sedang merah saat itu. padahal pada saat itu untuk bisa menuju ke tempat itu sangat membutuhkan perjuangan untuk menembus terik matahari dan beratnya setang motor mengendarai motor dengan bobot anak perempuannya. tetapi saya ingat betul, mama tidak pernah mengungkit-ungkit masalah harga tinggi untuk mendapatkannya. meskipun, hanya ALLOH yang tahu apakah sebenarnya mama merasakan defisit besar atau tidak saat itu.
saya tidak akan menceritakan lingkungan yang saya miliki.
karena saking bosannya. alasan inilah yang mendasari keinginan kuat
untuk menulis tentang pelevelan ini.
level hedonis. mereka memiliki segala sesuatu yang bisa debeli dengan uang. tetapi itulah harga yang harus dibayar karena mereka berfikir keras untuk selalu menjaga kelestarian dan keberlangsungan harta mereka.
belajar memahami, mengerti, dan mencoba memposisikan diri seperti
orang lain merupakan salah satu cara ampuh mensyukuri hidup ini. bukankah menjadi orang yang selalu seperti ini juga sekaligus belajar
untuk mengikis keegoisan diri yang ingin selalu diapresiasi, dimengerti, dan dipahami sementara tak mau tahu atau masa bodoh dengan yang lain.
dengan melihat kebawah kita bisa bersyukur dan dengan melihat keatas kita bisa mendapatkan pemacu hidup untuk terus berusaha dan berdoa.
Kamis, 17 Maret 2011
aku melihat eskrimku meleleh
Friday, 18-03-2011
00.30
betapa sebuah pertemanan merupakan sebuah obyek yang global.
dan bagiku itu sebuah lelehan eskrim coklat yang tetap manis ketika lelehannya dimasukkan ke mulut.
ketika itu tadi, sekitar jam 11.00 siang.
MANDA melangkah gontai tetapi tersungging senyum indah di bibirnya. setelah mendengar "sudah ini kamu revisi, kamu bisa maju ujian.". hampir dua jam tepat si manda berada di ruangan dosennya yang awalnya pengap itu. cecaran pertanyaan yang sempat membuatnya tak berkutik selama beberapa menit, berkali-kali, mulutnya benar-benar terkunci, klakep. manda tak berkutik ketika hubungan antara teori dan obyek penelitiannya dipertanyakan. tetapi sang dosen yang baik hati dan suka menolong ini pada akhir kebuthekan manda selalu memberikan solusi indah bagai angin AC dengan tingkat fan maksimal, mode pendingin cool, dan pengatur suhu pada level 16 derajat Celcius pada ruangan pengap yang hanya dibatasi sekat pembagi ruang.
Pada jarak sekitar 250 meter dari ruangan dosen pembimbing manda,
si KIKY, sedang bersama partner asisten praktikumnya seperti sedang tersetrum semangat juang pahlawan perebut kemerdekaan di era 1945an. cecaran konsep selama satu SKS tentang pengukuran terestrial yang dilanjutkan dengan teknis pelaksanaan pengukuran tersebut di lapangan yang tak lain dan tak bukan adalah di bumi tempat kita berpijak. terlalu luas jika menyebut bumi, mereka hanya berkutat pada sebidang tanah kosong berpasir pada ujung selatan timur kompleks kampus. si partner bukannya tak mau ikut-ikutan tersetrum semangat 45 si kiky tetapi dia memang merupakan mahasiswa yang taat aturan, bahkan aturan agama yang sekarang ini sering ditawar-tawar oleh manusia, dia tetap tegak lurus berdiri pada tiang agama sehingga ketika harus mengobrol dengan kiky hanya untuk urusan praktikum, dia harus menundukkan pandangannya.
kamar kos berukuran 5x5 meter berjarak 250 meter radius jalan Arteri Yogyakarta
WIDHI sedang mencoba membereskan kamarnya yang selalu berantakan sejak kakaknya yang sangat rajin bangun pagi lantas wudlu lantas solat subuh lantas minum susu dan MERAPIKAN KAMAR tak lagi tinggal sekamar dengannya karena kakaknya telah lebih dulu lulus (ya iyalah, secara kakaknya kan lebih tua..). widhi membenahi letak tiap barang yang ada di kamar itu, mengembalikan tiap barang tersebut ke tempat semula, menyapu kamarnya. setelah selesai widhi memperhatikan kamarnya lagi, masih kotor pikirnya. merasa gagal dengan ritualnya beres-beresnya widhi lantas mandi dan mencuci baju-baju kotornya.
PUKUL 16.30 WIB di warung sebelah kamar Widhi.
Manda, Kiky, dan Widhi memutuskan untuk mencari cemilan di kaki lima sepanjang jalan Arteri lain di Kota Yogyakarta. hujan rintik-rintik tidak mengurangi semangat ngemil mereka. mereka memulai perjalanan di supermarket baru di depan gedung bioskop yang baru juga. lanjut membeli lumpia dan kue lekker di pinggir jalan yang masih sejajar dengan supermarket dan gedung bioskop. karena si widhi sedang berpuasa sunah hari kamis, maka manda dan kiky menghormati widhi untuk ngabuburit dulu dengan masuk toko tas paling yahud di Indonesia dan toko busana muslim paling keren di Yogyakarta. maksdunya juga agar bisa numpang solat magrib di musola toko busana muslim ini. perjalanan ini ditutup dengan warung seafood dan curhatan dari masing-masing ketiganya.
dan semua asa, semua tawa, serta keluh kesah meleleh bagai eskrim yang dibiarkan begitu saja. meleleh tanpa terpaksa tetapi masih manis ketika telah menjadi lelehan sekalipun.
00.30
betapa sebuah pertemanan merupakan sebuah obyek yang global.
dan bagiku itu sebuah lelehan eskrim coklat yang tetap manis ketika lelehannya dimasukkan ke mulut.
ketika itu tadi, sekitar jam 11.00 siang.
MANDA melangkah gontai tetapi tersungging senyum indah di bibirnya. setelah mendengar "sudah ini kamu revisi, kamu bisa maju ujian.". hampir dua jam tepat si manda berada di ruangan dosennya yang awalnya pengap itu. cecaran pertanyaan yang sempat membuatnya tak berkutik selama beberapa menit, berkali-kali, mulutnya benar-benar terkunci, klakep. manda tak berkutik ketika hubungan antara teori dan obyek penelitiannya dipertanyakan. tetapi sang dosen yang baik hati dan suka menolong ini pada akhir kebuthekan manda selalu memberikan solusi indah bagai angin AC dengan tingkat fan maksimal, mode pendingin cool, dan pengatur suhu pada level 16 derajat Celcius pada ruangan pengap yang hanya dibatasi sekat pembagi ruang.
Pada jarak sekitar 250 meter dari ruangan dosen pembimbing manda,
si KIKY, sedang bersama partner asisten praktikumnya seperti sedang tersetrum semangat juang pahlawan perebut kemerdekaan di era 1945an. cecaran konsep selama satu SKS tentang pengukuran terestrial yang dilanjutkan dengan teknis pelaksanaan pengukuran tersebut di lapangan yang tak lain dan tak bukan adalah di bumi tempat kita berpijak. terlalu luas jika menyebut bumi, mereka hanya berkutat pada sebidang tanah kosong berpasir pada ujung selatan timur kompleks kampus. si partner bukannya tak mau ikut-ikutan tersetrum semangat 45 si kiky tetapi dia memang merupakan mahasiswa yang taat aturan, bahkan aturan agama yang sekarang ini sering ditawar-tawar oleh manusia, dia tetap tegak lurus berdiri pada tiang agama sehingga ketika harus mengobrol dengan kiky hanya untuk urusan praktikum, dia harus menundukkan pandangannya.
kamar kos berukuran 5x5 meter berjarak 250 meter radius jalan Arteri Yogyakarta
WIDHI sedang mencoba membereskan kamarnya yang selalu berantakan sejak kakaknya yang sangat rajin bangun pagi lantas wudlu lantas solat subuh lantas minum susu dan MERAPIKAN KAMAR tak lagi tinggal sekamar dengannya karena kakaknya telah lebih dulu lulus (ya iyalah, secara kakaknya kan lebih tua..). widhi membenahi letak tiap barang yang ada di kamar itu, mengembalikan tiap barang tersebut ke tempat semula, menyapu kamarnya. setelah selesai widhi memperhatikan kamarnya lagi, masih kotor pikirnya. merasa gagal dengan ritualnya beres-beresnya widhi lantas mandi dan mencuci baju-baju kotornya.
PUKUL 16.30 WIB di warung sebelah kamar Widhi.
Manda, Kiky, dan Widhi memutuskan untuk mencari cemilan di kaki lima sepanjang jalan Arteri lain di Kota Yogyakarta. hujan rintik-rintik tidak mengurangi semangat ngemil mereka. mereka memulai perjalanan di supermarket baru di depan gedung bioskop yang baru juga. lanjut membeli lumpia dan kue lekker di pinggir jalan yang masih sejajar dengan supermarket dan gedung bioskop. karena si widhi sedang berpuasa sunah hari kamis, maka manda dan kiky menghormati widhi untuk ngabuburit dulu dengan masuk toko tas paling yahud di Indonesia dan toko busana muslim paling keren di Yogyakarta. maksdunya juga agar bisa numpang solat magrib di musola toko busana muslim ini. perjalanan ini ditutup dengan warung seafood dan curhatan dari masing-masing ketiganya.
dan semua asa, semua tawa, serta keluh kesah meleleh bagai eskrim yang dibiarkan begitu saja. meleleh tanpa terpaksa tetapi masih manis ketika telah menjadi lelehan sekalipun.
Selasa, 15 Maret 2011
sekedar untuk dibagi = just anything to share
sudah lama tangan ini gak nyentuh dan ngutek-utek blog ini.
saking banyak nya hal-hal indah yang udah terlewati jadi bingung mau dimulai darimana.
yasudah, nyritain hari ini saat ini aja deh,,
detik ini, aq sedang ngetik dengan ditemani lagu-lagu dewi lestari satu album, RECTO VERSO.
semalam aq bertemu dengan temanku, sahabatku, dia bercerita tentang segala permasalahan yang sedang dialaminya,, tentang sebuah pilihan hidupnya. tentang mimpinya yang harus terhenti. tentang kebahagiaan orang lain. dan tentang dirinya.
kemarin, aku ke pasar hewan, membeli 6 ekor ikan kecil-kecil lucu. sudah empat tahun yang lalu sejak aq menginjakkan kaki ke tanah Yogyakarta Hadiningrat ini untuk mempunyai peliharaan ikan dengan akuarium kecil. tapi entah mengapa baru kemarin kesaimpaian. mereka berenam sedang hidup bahagia di tempat barunya dengan mahluk lain sebuah "hidrilla" di tengah akuarium.
mereka cantik.
dan sekarang,, energiku seperti kesetrum gara-gara membaca novel "5 cm" nya Donny Dirgantara. novel yang berkali-kali ditawarkan untuk dipinjamkan padaku tetapi aku terus saja menolak dengan alasan, "covernya gak menarik ah, jelek, item lagi. aku kan benci warna item."
mulai hari ini, segala mimpiku tergantung bebas sejauh 5 cm di depan keningku sehingga setiap detik aku melihatnya dan tak pernah mangkir dari mataku sedikitpun.
yang kubutuhkan dalam meraih mimpi-mimpiku adalah kaki yang lebih lama berjalan, tangan yang lebih banyak bekerja, otak yang lebih lama berfikir, dan mulut yang selalu berdoa.
:D
saking banyak nya hal-hal indah yang udah terlewati jadi bingung mau dimulai darimana.
yasudah, nyritain hari ini saat ini aja deh,,
detik ini, aq sedang ngetik dengan ditemani lagu-lagu dewi lestari satu album, RECTO VERSO.
semalam aq bertemu dengan temanku, sahabatku, dia bercerita tentang segala permasalahan yang sedang dialaminya,, tentang sebuah pilihan hidupnya. tentang mimpinya yang harus terhenti. tentang kebahagiaan orang lain. dan tentang dirinya.
kemarin, aku ke pasar hewan, membeli 6 ekor ikan kecil-kecil lucu. sudah empat tahun yang lalu sejak aq menginjakkan kaki ke tanah Yogyakarta Hadiningrat ini untuk mempunyai peliharaan ikan dengan akuarium kecil. tapi entah mengapa baru kemarin kesaimpaian. mereka berenam sedang hidup bahagia di tempat barunya dengan mahluk lain sebuah "hidrilla" di tengah akuarium.
mereka cantik.
dan sekarang,, energiku seperti kesetrum gara-gara membaca novel "5 cm" nya Donny Dirgantara. novel yang berkali-kali ditawarkan untuk dipinjamkan padaku tetapi aku terus saja menolak dengan alasan, "covernya gak menarik ah, jelek, item lagi. aku kan benci warna item."
mulai hari ini, segala mimpiku tergantung bebas sejauh 5 cm di depan keningku sehingga setiap detik aku melihatnya dan tak pernah mangkir dari mataku sedikitpun.
yang kubutuhkan dalam meraih mimpi-mimpiku adalah kaki yang lebih lama berjalan, tangan yang lebih banyak bekerja, otak yang lebih lama berfikir, dan mulut yang selalu berdoa.
:D
Kamis, 20 Januari 2011
Inspiring Woman In a TrainStation. :D
Sabtu pagi yang cerah, tapi sayangnya badanku tak begitu cerah karena memang semalam aku hanya tidur tak lebih dari empat jam. Dan paginya harus sudah menunggu kereta yang akan membawaku ke kota seberang.
Terlalu pagi aku sampai di stasiun, menunggu, 30 menit aku menunggu kereta ku datang. Aku berdiri di pegangan peron jalur dua. Karena biasanya keretaku akan melintas di jalur ini. Sebelum keretaku datang, kereta ekonomi jurusan jakarta-solo lebih dahulu berhenti untuk menurunkan penumpang di stasiun ini. Kereta ini tepat berhenti di depan tempatku berdiri. Bau pesing kamar mandi kereta menghantam udara disekitarku bersamaan dengan ratusan penumpang kereta yang berdesakan turun dari kereta. Kotor sekali kataku dalam hati. Bau pesing, bau rokok, bau keringat semua bercampur membentuk satu senyawa gas yang hampir merasuk mengganggu otakku. Tapi aku tak bergeming sedikitpun, aku tetap ingin mengabadikan kajadian ini dengan sorotan mata yang seterusnya kurekam dengan baik di benakku.
Segera setelah penumpang turun, beberapa ibu-ibu perkasa dengan baju seperti kebaya dan dipadu dengan kain sigap mengangkat baskom berisikan nasi bungkus, ayam goreng, dan sambal lalu menaruhnya di atas kepala mereka. Pada baskom tersebut tertuliskan “nasi ayam 4000”. Begitu murahnya nasi ini pikirku dalam hati. “Nasi ayam nasi ayam nasi nasiii....”. Suara itu begitu menyentuh hatiku, entah mengapa aku begitu melow pagi ini. “buk, nasi ayam dua bungkus” kata salah satu penumpang pada ibu penjual nasi ayam ini. “oh nggeh mas.” Sahutnya cepat sembari menurunkan baskomnya dan cekatan membuka bungkusan nasi serta memasukkan ayam dan sambal kedalam bungkusan tersebut lalu dibungkus kembali, sekali lagi kulihat tangan tua itu melakukan adegan yang sama untuk bungkus kedua. Setelah selesai melayani pembeli, uang pun didapat.
Ketika aku mencerminkan ini pada diriku, aku tak kan mungkin memiliki keinginan segigih sekuat ibu ini. Ibu-ibu ini begitu gigihnya membantu suami mereka mencari nafkah. Keuntungan perhari yang mereka terima tak seberapa, tetapi mereka tetap berusaha dan terus berusaha. Jauh berbeda denganku yang malas karena selalu bergelimang kecukupan. Ingin rasanya mencontoh kegigihan mereka, meskipun mereka bukan seorang “inspiring woman” yang sering disorot di media tetapi mereka memiliki kegigihan, ketangguhan dan keseriusan yang tak jauh dari mereka yang sering disorot media. Mereka memang orang pinggiran yang tak banyak mendapat perhatian, tetapi dari merekalah seharusnya kita bisa berkaca dan mencontoh, karena kesederhaan jelas melekat kentara di diri mereka.
Terlalu pagi aku sampai di stasiun, menunggu, 30 menit aku menunggu kereta ku datang. Aku berdiri di pegangan peron jalur dua. Karena biasanya keretaku akan melintas di jalur ini. Sebelum keretaku datang, kereta ekonomi jurusan jakarta-solo lebih dahulu berhenti untuk menurunkan penumpang di stasiun ini. Kereta ini tepat berhenti di depan tempatku berdiri. Bau pesing kamar mandi kereta menghantam udara disekitarku bersamaan dengan ratusan penumpang kereta yang berdesakan turun dari kereta. Kotor sekali kataku dalam hati. Bau pesing, bau rokok, bau keringat semua bercampur membentuk satu senyawa gas yang hampir merasuk mengganggu otakku. Tapi aku tak bergeming sedikitpun, aku tetap ingin mengabadikan kajadian ini dengan sorotan mata yang seterusnya kurekam dengan baik di benakku.
Segera setelah penumpang turun, beberapa ibu-ibu perkasa dengan baju seperti kebaya dan dipadu dengan kain sigap mengangkat baskom berisikan nasi bungkus, ayam goreng, dan sambal lalu menaruhnya di atas kepala mereka. Pada baskom tersebut tertuliskan “nasi ayam 4000”. Begitu murahnya nasi ini pikirku dalam hati. “Nasi ayam nasi ayam nasi nasiii....”. Suara itu begitu menyentuh hatiku, entah mengapa aku begitu melow pagi ini. “buk, nasi ayam dua bungkus” kata salah satu penumpang pada ibu penjual nasi ayam ini. “oh nggeh mas.” Sahutnya cepat sembari menurunkan baskomnya dan cekatan membuka bungkusan nasi serta memasukkan ayam dan sambal kedalam bungkusan tersebut lalu dibungkus kembali, sekali lagi kulihat tangan tua itu melakukan adegan yang sama untuk bungkus kedua. Setelah selesai melayani pembeli, uang pun didapat.
Ketika aku mencerminkan ini pada diriku, aku tak kan mungkin memiliki keinginan segigih sekuat ibu ini. Ibu-ibu ini begitu gigihnya membantu suami mereka mencari nafkah. Keuntungan perhari yang mereka terima tak seberapa, tetapi mereka tetap berusaha dan terus berusaha. Jauh berbeda denganku yang malas karena selalu bergelimang kecukupan. Ingin rasanya mencontoh kegigihan mereka, meskipun mereka bukan seorang “inspiring woman” yang sering disorot di media tetapi mereka memiliki kegigihan, ketangguhan dan keseriusan yang tak jauh dari mereka yang sering disorot media. Mereka memang orang pinggiran yang tak banyak mendapat perhatian, tetapi dari merekalah seharusnya kita bisa berkaca dan mencontoh, karena kesederhaan jelas melekat kentara di diri mereka.
Rabu, 15 Desember 2010
sebuah titik balik..
Biasanya setelah seharian berkutat dengan teman teman di laboratorium prodiku, menjelang sore tiba aku mulai menginvasi studio kerja milik teman teman di prodi lain. Meskipun tak semua anak di studio itu mengenalku, aku tetap saja nimbrung.
Tetapi sore ini berbeda, erik, teman penghuni studio yang telah lama kukenal. Aku dan erik serentak seperti dikomando untuk duduk menuju tempat duduk taman. Ngobrol ‘ngalor ngidul’ ditemani semilir angin sore yang romantis. Obrolan berawal dari menanyakan teman yang lain, bagaimana kabar mereka dan sampai pada suatu obrolan yang menurutku hal paling menakutkan. Jenis obrolan itu adalah ‘jodoh’ begitu hati-hatinya aku menyentil setiap detil kata ini yang terucap dari tubuhku, baik secara batin maupun secara lisan.
Dengan hati-hati mulai ku umbar secuil kisah cinta yang sedang kualami, singkatnya, aku masih suka memungkiri rasa cintaku pada seseorang dengan selalu membanggakan diriku yang dijodohkan oleh temanku pada seorang pria high class dan yang pada akhirnya kembali kurendahkan diriku yang tak pantas memiliki pria high class tersebut. Berkali kali kulafalkan, aku tak pantas.
Pria high class ini penuh targetan jelas, penuh tatanan masa depan cerah. Sementara aku, selalu hanya bisa melambung lambungkan mimpi. Jelaslah jauh, sangat jauh berbeda.
Inilah erik, temanku, dia tak serta merta mengiyakan kerendah dirian ku. Dengan tegas ia berkata :
“Di, memang sekarang kita ini, manusia muda sering cuma bisa bermimpi tinggi. Tapi bukannya hidup ini untuk meraih mimpi? Dia seperti itu karena dia telah menemukan titik balik dimana dia telah menyadari apa yang tak perlu dari hidupnya serta merta dengan menatanya kembali dengan fokus pada satu tujuan. Kamu itu hanya belum melaksanakan titik balikmu itu, karena kuyakin kamu telah menemukan titik balikmu dian sayang..”
Ingin rasanya menumpahkan literan air mata dari kelenjar air mataku detik itu juga. Teringat semua kegiatan yang membuat pikiranku berubah halauan dari fokus utamaku. Kusadari kini titik balik telah kudapatkan, aku berusaha mengkomandoi saraf motorikku dan mensugesti saraf sensorikku untuk segera berlari menuju fokus tujuanku.
Ingin rasanya menumpahkan literan air mata dari kelenjar air mataku detik itu juga. Teringat semua kegiatan yang membuat pikiranku berubah halauan dari fokus utamaku. Kusadari kini titik balik telah kudapatkan, aku berusaha mengkomandoi saraf motorikku dan mensugesti saraf sensorikku untuk segera berlari menuju fokus tujuanku.
Kamis, 09 Desember 2010
bangka barat?? akhirnya ada jalan ke sumatera... :D
pukul 05.58 tertera di telepon selularku. suara Bruno Mars yang merdu sudah memanggil manggil. lampu yang berkedip kedip. setengah mataku terbuka malas malasan, FATHER, tulisan itu jelas diikuti lampu yang berkedip kedip tersebut. tanpa pikir panjang, kutekan tombol answer.
"ya pah.." suaraku serak,, bagaimana tidak,, aku baru saja membuka mata dari tidur semalam.
"kamu baru bangun ya??!!" jawabnya kaget.
"hehe, iya.." jawabku dengan suara masih sangat serak.
"kamu nanti bisa online? kamu googling cari informasi sebanyak banyak nya tentang kota ... (sumpah aku lupa nama kota yang mesti ku googling ini,, hehe.. ) itu kota di pulau bangka, kabupaten bangka barat." terang papaku panjang lebar.
belum sempat aku tanya mengapa harus mencari kota itu, papa berkata lagi "papa kemungkinan dipindah kesana, googling termasuk gmaps juga kantor papa dimana, trus jangan lupa info info tentang kota itu ya."
"kamu kapan pulang?" pulang kesolo selalu menjadi pertanyaan akhir minggu.
"ya nanti sore jam 4 mungkin." suara ku sudah agak mendingan.
"yasudah, cepetan googling ya. papah lagi ga ada koneksi cepet" jawabnya cepat.
"heemm, iya.." ini jawaban paling sering kelur dari mulutku.
"yasudah, udah dulu ya." kata papaku dan klik telepon terputus.
wuaaa,,, papaku pindah,, akhirnyaaa aku bisa jalan jalan ke pulau sumatera. bangka lagi..
siap siap nabung. dan the next destination is BANGKA BELITUNG.
:D :D :D :D
"ya pah.." suaraku serak,, bagaimana tidak,, aku baru saja membuka mata dari tidur semalam.
"kamu baru bangun ya??!!" jawabnya kaget.
"hehe, iya.." jawabku dengan suara masih sangat serak.
"kamu nanti bisa online? kamu googling cari informasi sebanyak banyak nya tentang kota ... (sumpah aku lupa nama kota yang mesti ku googling ini,, hehe.. ) itu kota di pulau bangka, kabupaten bangka barat." terang papaku panjang lebar.
belum sempat aku tanya mengapa harus mencari kota itu, papa berkata lagi "papa kemungkinan dipindah kesana, googling termasuk gmaps juga kantor papa dimana, trus jangan lupa info info tentang kota itu ya."
"kamu kapan pulang?" pulang kesolo selalu menjadi pertanyaan akhir minggu.
"ya nanti sore jam 4 mungkin." suara ku sudah agak mendingan.
"yasudah, cepetan googling ya. papah lagi ga ada koneksi cepet" jawabnya cepat.
"heemm, iya.." ini jawaban paling sering kelur dari mulutku.
"yasudah, udah dulu ya." kata papaku dan klik telepon terputus.
wuaaa,,, papaku pindah,, akhirnyaaa aku bisa jalan jalan ke pulau sumatera. bangka lagi..
siap siap nabung. dan the next destination is BANGKA BELITUNG.
:D :D :D :D
Rabu, 08 Desember 2010
aku sadari,, aku mengaguminya..
Hari ini tak ubahnya seperti hari hari biasanya. Tapi entah mengapa aku ingin men’spesial’kan hari ini.
Yak, hari ini diawali dengan bangun tidur, mandi, sarapan, dan berangkat ke kantor. Tergesa-gesa sekali perjalananku kali ini. Aku sudah terlambat ngajar. Haduh semoga partnerku sudah datang sehingga bisa memulai praktikum terlebih dahulu. Dan benar saja, aku terlambat lima menit di kelas. Sudahlah, tak mengapa, toh praktikan juga tak banyak menanyakan mengapa. Praktikum berjalan seperti biasa. Nothing special.
Setelah praktikum aku mulai bermain dengan komputer komputer canggih di laboratorium, apalagi kalau bukan berinternet ria. Browsingku hari ini hanya berkutat dengan sosialita. Buka facebook dan blog, posting sedikit, sudah hanya itu saja.
Telepon selularku berdering, Qori, temanku menelpon. Intinya dia mengajakku pergi makan ke sebuah restoran untuk merayakan ulang tahun temannya, mbak ina namanya. Aku menolaknya dengan beberapa alasan, karena memang aku telah punya janji dengan Ika, kami sudah merencanakan nonton Harry Potter seri yang ketujuh. Benar benar dilema. Aku ingin juga ikut ke acara makan makan itu tetapi di sisi lain, aku sudah janji dengan sahabatku ini.
Jam menunjukkan angka 12 di siang itu. Aku sudah terlambat pikirku untuk pertunjukan pukul 12.45. lagi lagi aku berangkat bergegas ke bioskop. Uh, tapi, sesampainya disana, ternyata aku lupa membuka sms dari ika yang membatalkan untuk mengikuti pertunjukan jam 12.45 menjadi jam 15.30. awawawawaaaaawww,,, yasudahlah. Rencana selanjutnya menelpon qori, mengikuti acara makan makan nya, selesai itu kembali ke bioskop bertemu ika.
Diluar rencana, ternyata qori tak langsung menuju ke acara tersebut karena harus mengambil motornya terlebih dahulu. Qori menyuruhku untuk berangkat bersama mbak ina saja, tapi aku tak bisa, aku belum terbiasa dengannya. Sehingga aku memilih menunggu Qori dan berangkat bersamanya. Qori pun menjemputku, dan akupun akhirnya sampai di tempat makan makan itu dan melewati tawa dan obrolan teman teman nya yang menurutku sangat membosankan. Bukan karena aku tak tahu esensi yang dibicarakan, tetapi lebih karena aku tak terbisa dengan meraka, aku takut jayus, aku takut keterlaluan mengatai salah satu dari mereka.
Aq tak pernah memimpikan ini sebelumnya,,,
Tibalah penghujung acara. Makan makan selesai. Aku dan qori bingung karena hujan yang tak kunjung reda sementara aku tak memakai mantel dan mantel qori bukan mantel yang bisa digunakan untuk berdua. Tak ada kendaraan lagi, pada awal berangkat semua sudah cukup memiliki kendaraan sendiri. Heemmm,, aku sempat bingung sebenarnya, dan jam ditangan sudah menunjukkan pukul 15.00 setengah jam lagi film mulai. Dan tak ada tanda2 penyelamatku.
Saking bingungnya aku melarikan diri sejenak melepas amarah ke toilet. Sendiri. Mengusap mukaku dengan air dingin.
Kembali ke meja makan. Entah apa yang aku impikan sebelumnya, keputusan menjadi, mas ki, kakak nya mbak ina, menjadi penyelamatku. Dia yang akan mengantarku ke kampus. Dengan mobilnya. Eww,, aku tahu, misi qori dan mbak ina memang menjodohkanku padanya. Tapi memang aku tak serta merta langsung jatuh cinta dan menginginkanya, aku sadar aku perempuan,, sejatinya pun jika aku menginginkannya sangat tetapi apabila dia tak berkenan apalah arti ku?? Salah salah aku hanya akan dilihat sebagai wanita yang agresif.
Cukup menggumamnya, sampai di dalam mobil. Pembicaraan tentang sakit yang dideritanya beberapa waktu lalu menjadi awalan. Dilanjut dengan pertanyaan pembuka tema ‘dimana tepatnya rumah tinggalnya di jogja ini bersama mbak ina’ lalu perbandingan antara jakarta dan jogja. Selanjutnya pembicaraan yang menurutku membuatku kembali terhenyak, kagum, ya, aku mengagumi sosoknya...
“Mas ki itu di UII ngambil apa jurusannya mas?” tanyaku.
“Ini, manajemen, magister manajemen gitu.” Jawabnya. “Ooohh..” sahutku singkat.
belum sempat aku menanyainya lagi lebih lanjut mas ki melanjutkan cerita tentang dirinya “aku kan sebenernya sempet di Astra, tapi disuruh bapak kuliah S2, yah mumpung bapak masih bisa nyekolahin dan itung itung nemenin ina.”
“jadi mas resign gitu dari astra?” tanyaku singkat. “iya, tapi aku kemarin daftar pns kok, di jogja, di jakarta juga. Bapak kan pengennya karena aku anak laki ya bisa jadi pns ato di bumn lah.” Jawabnya lengkap.
“ooww,,” jawabku singkat. “trus itu gak sayang mas Astra nya? Ditinggal gitu aja?”
“oh, bisa sih, tenggang nya Cuma dua tahun. Yah aku 18 bulan aja lah s2. Gak usah lama lama.” Jawabnya.
Deg. Aliran darahku seakan berhenti. Aku tak pernah menemui orang dengan target sedemikian fokus. Aku yang selama ini masih jalan jalan main kesana kemari, slengekan, gak pernah fokus dan serius sama masa depan. Berbeda jauh dengan mas ki, orang ini begitu terencana. Saya kagum akan dia.
Tetapi ada satu lagi yang membuatku kagum akan dia. Pemikirannya yang hampir sama denganku. Yak, aku memiliki planning kedepan jika telah lulus nanti, aku akan berusaha menjadi pns dan memiliki usaha sampingan untuk tambahan pendapatan.
Seperti terhenti aliran darahku untuk kedua kalinya.
“ah tapi mas, jadi pns juga ga banyak duit (red : mapan) juga kok.”
“iya.. pns, yang penting sambilannya.”
“SIP!!”
Ohmaigat. Percakapan ini memang singkat tetapi semuanya membuatku terhenyak. Teringat kembali skripsi yang belum kelar. Malamnya, kukerjakan semuanya dengan semangat.
Senin, 06 Desember 2010
hemm,, ini siapa yang dikerjain yak??
Suatu senin pagi, aku seperti biasanya bersiap siap untuk pulang ke Yogyakarta untuk kembali melakukan rutinitasku. Segala macam barang yang hendak kubawa kembali ke yogya telah kurapihkan kedalam tas ransel, akupun sudah siap berangkat. Tapi tunggu sebentar, kunci motorku dimana ya? Karena setiap akhir pekan aku pulang ke Solo, aku menitipkan motorku ke parkiran inap yang ada di dekat stasiun lempuyangan dan setelah senin pagi aku tiba di yogya dapat langsung menjalani rutinitas. Nah, jam sudah menunjukkan pukul 05.55, padahal dari rumah menuju stasiun balapan aku akan ikut dengan ayahku yang setiap pagi berangkat ke Klaten tepat jam 06.00 pagi dari rumah karena jika tidak akan terlambat sampai di kantor. Yasudah, karena kunci motorku tak segera kutemukan maka ayahku meninggalkanku.
Pilihan selanjutnya, merengek pada adik bungsuku untuk diantar ke stasiun balapan. Dia bisa saja mengantarku karena hari itu memang sekolahnya diliburkan. Aku berangkat ke stasiun balapan tanpa kunci motorku. Sesampainya di stasiun, yang kulakukan pertama kali adalah mengirim pesan pendek dari telepon selularku ke telepon selular pemilik parkir inap bahwa aku tak jadi mengambil motorku pagi ini karena aku tak menemukan kunci motorku. Selanjutnya kutelpon temanku, IKA, bagaimana sebaiknya aku nanti sesampainya di yogya, dan keputusannya adalah aku turun di stasiun bandara adi sutjipto untuk selanjutnya naik trans jogja menuju terminal condong catur dan aku akan dijemput ika disana.
Oke, masalah satu selesai.
Kereta datang tepat waktu. Aku segera naik dan mencari tempat duduk. Kereta melaju normal, berhenti di stasiun klaten, dan sekitar 30 menit setelahnya sampai di stasiun bandara adi sutjipto. Aku segera turun setelah pintu dibuka, bergegas menuju shelter trans jogja. Sepuluh menit berlalu, bus dengan jurusan yang kutunggu tak kunjung datang, lima belas menit kemudian datanglah bus yang kutunggu. Yak, dan penuh sesak sekali bus ini, tak ada tempat duduk tersisa, berhimpitan dengan penumpang lain yang juga berdiri menjadikan pikiranku makin tak nyaman. Humph,, Bus melaju dan berhenti karena lampu merah di pertigaan maguwo, pandanganku tertuju cekat kearah satu wajah penumpang yang sepertinya tak asing bagiku, yah.. itu temanku, AYU, kusapa dan kami saling kaget. Ternyata kami juga satu kereta tapi tak bertemu. Lama kelamaan, aku merasa panas sekali bus ini, bukannya harusnya sejuk karena AC?? Yaaahh,, ternyata, bus ini AC nya mati, pintunya pun terbuka. Keringatku bercucuran.
Tetapi masalah kedua yakni kepanasan dan berkeringat di bus teratasi karena bus melaju lagi sehingga ada angin yang berhembus masuk kedalam bus.
Seger..
Ditengah perjuanganku berhimpitan dengan penumpang lain, handphone dalam kantong celana jeans hitamku bergetar, segera aku mengambilnya, ternyata ada pesan pendek yang masuk tetapi pengirimnya dari nomor yang belum bernama. Ketika kubuka dan kubaca pesannya, aku langsung bahagia tetapi juga sebal. Bagaimana tidak, pesan tersebut berisi pemberitahuan dari pegawai parkir inap motorku bahwa kunci motorku sebenarnya tertinggal sejak aku titipkan, dan mereka tak bisa mengabariku karena tak pernah menyimpan nomorku. Aaawwrrgghh,, umpatku dalam hati, “kenapa ga sms daritadi to mas, kalo daritadi kan aku bisa turun lempuyangan saja.. haduh..”
Ini bukan masalah sih, tapi aku merasa dikerjain..
Selanjutnya, bus telah sampai di shelter terminal condong catur. Aku dan ayu turun, kami sama sama menunggu jemputan teman. Ayu dijemput lebih dulu daripada aku. Selang lima menit, Ika datang menjemputku. Dalam perjalanan, aku dan ika saling menceritakan cerita masing masing. Karena aku harus segera bertemu dosen pembimbing skripsiku, aku membawa motor Ika ke kampus. Berbagai kegiatanku kulakukan dengan motor Ika, tetapi aku memang tak merencanakan bagaimana nantinya mengambil motorku. Aku hanya ingin segera mengakhiri rutinitasku hari ini dan bertemu ika untuk berbagi banyak cerita yang tertunda hampir dua minggu lamanya. Ahahaha,,
Pukul 16.00 aku menuju kos ika. Jalanan macet dibeberapa tempat. Tetap saja aku dapat mencapai kos ika sebelum magrib dan bisa berbuka besama ika dan teman teman kosnya ika.
Hangatnya,,
Pukul 19.30 setelah kami selesai makan dan membeli martabak manis di warung temannya ika, ika ingin berbelanja ke supermarket yang sejalan kearah stasiun lempuyangan. Sehingga kami berbelanja dulu sebelum ke stasiun untuk mengambil motorku. Karena sifat dasar wanita yang suka berbelanja, kami lama menghabiskan waktu di supermarket. Keluar dari supermarket pukul 20.00. terlalu malam memang untuk mengambil motor di parkiran inap walaupun sebenarnya parkiran tersebut terbuka 24jam. Aku dan ika menuju parkiran inap, kuketuk gerbangnya berkali kali baru keluarlah pemilik parkiran inap. Bapak pemilik parkiran inap itu berkata “mbak, tadi saya lupa sms, ternyata yang ketemu itu kunci motor lain, bukannya motornya mbak”. Ah, lemas badanku, keduakalinya aku mengumpat “mbok ya bilang daritadi toh pak”. Kujawab “yah, berarti ga ada nih pak kunci motorku, yaudah, saya pulang aja diantar temanku” dan balik kanan. Lalu buru buru bapak itu berkata “enggak mbak, ini ada kok kuncinya embak, saya tadi cuma ngerjain”. Dan aku balik kanan lagi, “aahhh,, bapak, kok pake ngerjain sih pak” “Nah ya mbaknya juga ngerjain saya, pagi pagi sms gajadi diambil bilang kunci motornya ga ketemu, ya mau dicari sampek lebaran gabakal ketemu mbak. Eh diambilnya malem malem lagi. Tuh kan, niat banget ngerjain saya. Ya saya kerjain balik”. Oh maigat!! Umpatku dalam hati “si bapak aya ayaaaa waeeee..”. Tapi ya ekspresiku cuma bisa melengos jelek, senyum klecam klecem. Terbersit ide buat memberikan martabak manis yang kubeli untuk bapak ini, yah sebagai bentuk basa basi orang jawa. Setelah berbasa basi cukup, aku dan ika pulang ke rumah dan kos masing masing dengan senyum masih tersungging di bibir masing masing.
Hemph, si bapak aya’ aya’ wae’
Tapi indah ah hari ini..
Pilihan selanjutnya, merengek pada adik bungsuku untuk diantar ke stasiun balapan. Dia bisa saja mengantarku karena hari itu memang sekolahnya diliburkan. Aku berangkat ke stasiun balapan tanpa kunci motorku. Sesampainya di stasiun, yang kulakukan pertama kali adalah mengirim pesan pendek dari telepon selularku ke telepon selular pemilik parkir inap bahwa aku tak jadi mengambil motorku pagi ini karena aku tak menemukan kunci motorku. Selanjutnya kutelpon temanku, IKA, bagaimana sebaiknya aku nanti sesampainya di yogya, dan keputusannya adalah aku turun di stasiun bandara adi sutjipto untuk selanjutnya naik trans jogja menuju terminal condong catur dan aku akan dijemput ika disana.
Oke, masalah satu selesai.
Kereta datang tepat waktu. Aku segera naik dan mencari tempat duduk. Kereta melaju normal, berhenti di stasiun klaten, dan sekitar 30 menit setelahnya sampai di stasiun bandara adi sutjipto. Aku segera turun setelah pintu dibuka, bergegas menuju shelter trans jogja. Sepuluh menit berlalu, bus dengan jurusan yang kutunggu tak kunjung datang, lima belas menit kemudian datanglah bus yang kutunggu. Yak, dan penuh sesak sekali bus ini, tak ada tempat duduk tersisa, berhimpitan dengan penumpang lain yang juga berdiri menjadikan pikiranku makin tak nyaman. Humph,, Bus melaju dan berhenti karena lampu merah di pertigaan maguwo, pandanganku tertuju cekat kearah satu wajah penumpang yang sepertinya tak asing bagiku, yah.. itu temanku, AYU, kusapa dan kami saling kaget. Ternyata kami juga satu kereta tapi tak bertemu. Lama kelamaan, aku merasa panas sekali bus ini, bukannya harusnya sejuk karena AC?? Yaaahh,, ternyata, bus ini AC nya mati, pintunya pun terbuka. Keringatku bercucuran.
Tetapi masalah kedua yakni kepanasan dan berkeringat di bus teratasi karena bus melaju lagi sehingga ada angin yang berhembus masuk kedalam bus.
Seger..
Ditengah perjuanganku berhimpitan dengan penumpang lain, handphone dalam kantong celana jeans hitamku bergetar, segera aku mengambilnya, ternyata ada pesan pendek yang masuk tetapi pengirimnya dari nomor yang belum bernama. Ketika kubuka dan kubaca pesannya, aku langsung bahagia tetapi juga sebal. Bagaimana tidak, pesan tersebut berisi pemberitahuan dari pegawai parkir inap motorku bahwa kunci motorku sebenarnya tertinggal sejak aku titipkan, dan mereka tak bisa mengabariku karena tak pernah menyimpan nomorku. Aaawwrrgghh,, umpatku dalam hati, “kenapa ga sms daritadi to mas, kalo daritadi kan aku bisa turun lempuyangan saja.. haduh..”
Ini bukan masalah sih, tapi aku merasa dikerjain..
Selanjutnya, bus telah sampai di shelter terminal condong catur. Aku dan ayu turun, kami sama sama menunggu jemputan teman. Ayu dijemput lebih dulu daripada aku. Selang lima menit, Ika datang menjemputku. Dalam perjalanan, aku dan ika saling menceritakan cerita masing masing. Karena aku harus segera bertemu dosen pembimbing skripsiku, aku membawa motor Ika ke kampus. Berbagai kegiatanku kulakukan dengan motor Ika, tetapi aku memang tak merencanakan bagaimana nantinya mengambil motorku. Aku hanya ingin segera mengakhiri rutinitasku hari ini dan bertemu ika untuk berbagi banyak cerita yang tertunda hampir dua minggu lamanya. Ahahaha,,
Pukul 16.00 aku menuju kos ika. Jalanan macet dibeberapa tempat. Tetap saja aku dapat mencapai kos ika sebelum magrib dan bisa berbuka besama ika dan teman teman kosnya ika.
Hangatnya,,
Pukul 19.30 setelah kami selesai makan dan membeli martabak manis di warung temannya ika, ika ingin berbelanja ke supermarket yang sejalan kearah stasiun lempuyangan. Sehingga kami berbelanja dulu sebelum ke stasiun untuk mengambil motorku. Karena sifat dasar wanita yang suka berbelanja, kami lama menghabiskan waktu di supermarket. Keluar dari supermarket pukul 20.00. terlalu malam memang untuk mengambil motor di parkiran inap walaupun sebenarnya parkiran tersebut terbuka 24jam. Aku dan ika menuju parkiran inap, kuketuk gerbangnya berkali kali baru keluarlah pemilik parkiran inap. Bapak pemilik parkiran inap itu berkata “mbak, tadi saya lupa sms, ternyata yang ketemu itu kunci motor lain, bukannya motornya mbak”. Ah, lemas badanku, keduakalinya aku mengumpat “mbok ya bilang daritadi toh pak”. Kujawab “yah, berarti ga ada nih pak kunci motorku, yaudah, saya pulang aja diantar temanku” dan balik kanan. Lalu buru buru bapak itu berkata “enggak mbak, ini ada kok kuncinya embak, saya tadi cuma ngerjain”. Dan aku balik kanan lagi, “aahhh,, bapak, kok pake ngerjain sih pak” “Nah ya mbaknya juga ngerjain saya, pagi pagi sms gajadi diambil bilang kunci motornya ga ketemu, ya mau dicari sampek lebaran gabakal ketemu mbak. Eh diambilnya malem malem lagi. Tuh kan, niat banget ngerjain saya. Ya saya kerjain balik”. Oh maigat!! Umpatku dalam hati “si bapak aya ayaaaa waeeee..”. Tapi ya ekspresiku cuma bisa melengos jelek, senyum klecam klecem. Terbersit ide buat memberikan martabak manis yang kubeli untuk bapak ini, yah sebagai bentuk basa basi orang jawa. Setelah berbasa basi cukup, aku dan ika pulang ke rumah dan kos masing masing dengan senyum masih tersungging di bibir masing masing.
Hemph, si bapak aya’ aya’ wae’
Tapi indah ah hari ini..
Langganan:
Postingan (Atom)


